Memasuki Ramadan hari ketiga sore, kalian menyampaikan gerutuan lantaran mendengar teriakan keras bos kalian tentang kinerja kalian yang dianggapnya buruk, sedangkan kalian sudah bekerja sepanjang hari. Konon kalian tak mampu mengikuti mimpi, ambisi dan cita-cita bos yang kelewat tinggi.

Saya sudah menyarankan, pergilah ke masjid dan dengarkan kultum agar ada kesejukan pada hatimu. Lalu kalian jawab: “Masjid terlalu berisik. Orang-orang salat, bak senam. Buru-buru seperti diburu peluru. Salat tarawih sudah menjadi ajang menekuk-nekuk pinggang. Kultum hanya sekadar basa-basi. Tujuh menit hanya sebagai panggung casciscus..”


Saudaraku,

Mengapa kalian begitu pemarah dan sulit menerima keadaan sekitar. Terhadap bos, kalian protes, terhadap jamaah masjid kalian menggerutu seakan kalian paling benar sendiri di dunia ini.

Saudaraku,Saya hendak bercerita tentang sesuatu yang mungkin dapat kita renungkan.

Waktu kecil saya adalah seorang penggembala. Bukan penggembala hebat. Cuma angon wedus, alias penggembala kambing. Jumlah kambing yang saya gembalakan juga tak banyak. Terakhir 15 ekor. Saya sering melepas kambing di hutan jati yang berjarak kurang dari dua kilometer dari rumah.

Di dalam hutan, saya seringkali mendengar suara toktoktok.. bertalu-talu. Itu adalah suara pohon yang sedang dipatuk burung pelatuk. Yah, burung pelatuk. Burung jenis ini memiliki kaki zigodaktil, dengan dua jari kaki mengarah ke depan, dan dua lainnya ke belakang. Kaki-kaki itu, meski beradaptasi untuk berpegangan di permukaan vertikal, bisa digunakan untuk menggenggam atau bertengger. Beberapa spesies bahkan hanya memiliki tiga jari kaki.

Burung ini menyadap dan mematuk batang pohon dengan paruhnya. Begitulah cara burung pelatuk mencari dan menemukan larva serangga di bawah kulit kayu. Mula-mula, burung pelatuk mencari terowongan dengan menyadap batang. Begitu terowongan itu ditemukan, burung pelatuk memahat kayu sampai menciptakan pembukaan ke terowongan.

Kecepatan burung pelatuk mengebor sebuah pohon kurang lebih mencapai 40 km/jam. Satu kecepatan luar biasa yang dapat mencederai dirinya. Sekalipun begitu, terdapat sebuah sistem penguncian istimewa pada paruh pelatuk sehingga paruh tersebut tidak terluka. Jika sistem yang istimewa ini tidak ada, paruh burung pelatuk akan terbelah dua karena kecepatan tinggi saat mematuk. Selain itu, dampak dari patukan yang cepat itu akan langsung mengenai otak, sehingga burung akan kehilangan kesadaran. Namun, hal semacam itu tidak pernah terjadi karena Allah menciptakan burung sekaligus dengan kebutuhannya. Otak burung pelatuk ditempatkan pada ketinggian yang sama dengan paruh burung. Otot-otot paruh bagian bawah bertindak seperti “peredam goncangan” dan mengurangi goncangan yang terjadi ketika burung pelatuk mengebor pohon.

Tidak seperti burung lainnya, burung pelatuk dapat berjalan lurus ke atas pohon. Ia dapat berjalan dari atas atau dari bawah, ke satu sisi atau berputar-putar. Sedangkan kita jika ingin memanjat pohon, kita harus merangkul pohon dan harus berpegang erat-erat. Burung pelatuk dapat berjalan tegak, hampir tidak menyentuh kulit. Jika burung pelatuk harus memeluk pohon, ia tidak akan bisa mematuk dan takkan memperoleh makanan dalam kayu. Tidak ada burung lain yang mampu melakukan pekerjaan, seperti burung pelatuk.

Saudaraku,Guru mengaji saya, di saat saya masih kecil, memberi perumpamaan; orang bijak adalah bak burung pelatuk dan dunia adalah bak pohon besar. Dengan iman, kepastian, dan penetapan, seorang bijaksana, seorang insan kamil, dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan orang lain.

Seperti burung pelatuk, dengan mudah dia dapat naik ke atas, mematuk pada setiap titik. Pada saat itu sejatinya ia telah meraih dunia. Ia mematuk dengan sifat-sifat Allah dan ia mendapatkan kebenaran yang diperlukan untuk makanannya. Dia adalah makanan cinta, kebijaksanaan, belas kasih, ketenangan, dan Tuhan.

Seorang bijaksana tidak melekat pada pohon dunia atau menyandarkan diri, pikiran dan keinginan untuk dunia. Dunia ini tidak sulit baginya, karena ia bebas untuk bergerak ke arah manapun yang ia inginkan. Ia menjalani kehidupan dengan ringan karena ia memiliki iman, kepastian, dan ketentuan. Dia hanya mengambil kebenaran, intinya, dari setiap hal. Ini adalah wajar baginya.

Sedangkan sebagian besar dari kita, selalu berambisi dalam setiap urusan dunia dan berusaha merebut itu semua. Maka wajarlah kiranya kita akhirnya banyak mengalami kesulitan ketika kita mencoba untuk memanjat pohon.

Burung pelatuk adalah burung yang halus, dan orang bijak senantiasa bersikap halus. Jika kita telah menjadi bijaksana dan halus, kita akan memahami dunia dan akan mampu memanjat bahkan dapat terbang. Sebaliknya, jika kita belum mencapai derajat itu, akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan makanan kebenaran. Akan sulit bagi kita mencapai diri berkualitas bahkan sulit mengenal kasih sehingga jiwa kita tak lagi merdeka. Kita akan menderita dan jatuh.

Saudaraku,Apakah kita telah memahami bagaimana manusia menjadi bijaksana tanpa berpegangan pada dunia?

Guru saya mengatakan, itu sangat mudah bila kita memiliki iman, kepastian, tekad, dan kebijaksanaan. Jika kita juga belajar bagaimana melakukan ini, kita akan lebih indah dari burung pelatuk. Tuhan akan menempatkan mahkota megah-Nya di kepala kita dan memberikan dua sayap dari kebijaksanaan dan iman. Mata kita akan indah dan hati kita akan murni bercahaya putih. Kehidupan kita akan lengkap, dan kita akan memiliki kedamaian.

Sebaliknya, tanpa memiliki kejaksanaan kita berada dalam kesakitan. Meskipun kita membutuhkan Allah, hikmah dan cinta, kita berpegang erat pada dunia, sehingga kita menjadi menderita.

Saudaraku,Semakin kita melekat pada pohon dunia, kita semakin menderita.

Begitulah pelajaran dari burung pelatuk. Sayangnya, saya sampai kini masih saja berpegang pada pohon dunia karena saya masih khawatir kehilangan. Saya juga mengalami penderitaan itu, jadi mari kita lepaskan pelukan ini, saudaraku… Saya berharap kita saling asah, asih dan asuh sehingga kita sama-sama dapat mencapai derajat burung pelatuk dalam mencapai hakekat makanan kebenaran. Semoga.