Membuka bulan Ramadhan tahun ini saya mencoba merenung. Apakah hubungan saya dengan kalian sudah terjalin dengan baik? Adakah saya mencintai kalian semua? Saya sampai detik ini masih gundah, sehingga patut bertanya seperti itu. Sementara, belakangan ini saya merasa dicurangi sebagian dari kalian. Saya saya berusaha untuk ikhlas dan berbaik sangka dengan kalian yang mencurangiku itu. Saya percaya kalian diutus mendatangiku bukan sekadar untuk membuat saya terlena, melainkan juga membawa ujian.

Lalu mengapa begitu penting saya harus menata diri untuk mencintai kalian?

Seorang murid bercerita kepada gurunya yang sufi. Ia mengaku bertemu orang suci. Orang itu dapat berjalan di atas air. Sang guru menjawab: “Sejak dulu katak juga dapat melakukannya.”
Lalu murid itu juga bercerita bahwa orang suci itu dapat terbang. “Lalat justru dapat melakukannya lebih baik,” begitu jawab guru sufi. 

Lalu apakah ciri kesucian itu? “Cara terbaik untuk mendekati Tuhan adalah melakukan perkhidmatan sebaik-baiknya kepada sesama manusia, memasukkan kebahagiaan ke dalam hatinya,” begitu pesan Abu Said Abul Khayr guru sufi itu.

Saya mencoba memahami hal itu. Jika saya ingin mendekati Tuhan, maka saya harus terlebih dulu berkhidmat kepada sesama manusia, ya, termasuk kalian itu.

Saya juga menjadi teringat kisah Nabi Musa.

Satu kali, kaum Bani Israil mendatangi Musa, “Wahai Musa, kami ingin mengundang Tuhan untuk menghadiri jamuan makan kami. Bicaralah kepada Tuhan supaya Dia berkenan menerima undangan kami.”

Dengan marah Musa menjawab, “Tidakkah kamu tahu bahwa Tuhan tidak memerlukan makanan?” Tetapi, ketika Musa menaiki bukit Sinai, Tuhan berkata kepadanya, “Kenapa tidak engkau sampaikan kepada-Ku undangan itu? Hamba-hamba-Ku telah mengundang Aku. Katakan kepada mereka, Aku akan datang pada pesta mereka Jumat petang.”

Musa menyampaikan sabda Tuhan itu kepada umatnya. Berhari-hari mereka sibuk mempersiapkan pesta itu.

Pada Jumat sore, seorang tua tiba dalam keadaan lelah dari perjalanan jauh. “Saya lapar sekali,” katanya kepada Musa. “Berilah aku makanan.”

Musa berkata, “Sabarlah, Tuhan Rabbul Alamin akan datang. Ambillah ember ini dan bawalah air ke sini. Kamu juga harus memberikan bantuan.”

Orang tua itu membawa air dan sekali lagi meminta makanan. Tapi tak seorang pun memberikan makanan sebelum Tuhan datang. Hari makin larut, dan akhirnya orang-orang mulai mengecam Musa yang dianggap telah memperdayakan mereka.

Musa menaiki bukit Sinai dan berkata, “Tuhanku, saya sudah dipermalukan di hadapan setiap orang karena Engkau tidak datang seperti yang Engkau janjikan.”

Tuhan menjawab, “Aku sudah datang. Aku telah menemui kamu langsung, bahkan ketika Aku bicara kepadamu bahwa Aku lapar, kau menyuruh Aku mengambil air. Sekali lagi Aku minta, dan sekali lagi engkau menyuruh-Ku pergi. Baik kamu maupun umatmu tidak ada yang menyambut-Ku dengan penghormatan.”

“Tuhanku, seorang tua memang pernah datang dan meminta makanan, tapi ia hanyalah manusia biasa,” kata Musa.

“Aku bersama hamba-Ku itu. Sekiranya kamu memuliakan dia, kamu memuliakan Aku juga. Berkhidmat kepadanya berarti berkhidmat kepada-Ku. Seluruh langit terlalu kecil untuk meliputi-Ku, tetapi hanya hati hamba-Ku yang dapat meliputi-Ku. Aku tidak makan dan minum, tetapi menghormati hamba-Ku berarti menghormati Aku. Melayani mereka berarti melayani Aku.”

Jadi, dari kisah itu saya percaya, saya takkan bisa mencintai Tuhan tanpa mencintai sesama manusia, termasuk kalian.

Saya teringat sebuah hadist. Tuhan akan memanggil hamba-hamba-Nya lalu berkata kepada salah seorang di antara mereka: “Aku lapar, tapi kamu tidak memberi makan kepada-Ku.” Ia berkata kepada yang lainnya, “Aku haus, tapi kamu tidak memberiku minum.” Ia berkata kepada hamba-Nya yang lainnya lagi, “Aku sakit, tapi kamu tidak menjenguk-Ku.”

Ketika hamba-hamba-Nya mempertanyakan semuanya ini, Ia menjawab, “Sungguh si Abdul lapar; jika kamu memberi makan kepadanya, kamu akan menemukan Aku bersamanya. Si Abdul sakit; jika kamu mengunjunginya, kamu akan menemukan Aku bersamanya. Si Abdul haus; jika kamu memberinya minum, kamu akan menemukan Aku bersamanya.”

Dalam Al-Quran juga ada perintah, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Berbaktilah kepada kedua orangtua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, orang-orang yang kehabisan bekal, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, yaitu orang-orang yang kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Kami telah menyediakan orang-orang kafir seperti itu, siksa yang menghinakan.”(QS.Al-Nisa’,36-37)

Jadi jika ada yang merasa saya mencintai kalian, maka sesungguhnya itu untuk kepentinganku sendiri. Percayalah….