Ramadan hari kedua tahun ini saya teringat saudaraku Boyang. Ia menulis status di YM dengan kalimat pendek: “Menunggu Janji Tuhan”.

Saudaruku Boyang adalah seorang muslim sehingga tidak main-main dengan statusnya itu. Dan Allah tak akan mengingkari janjinya. Allah berfirman: “Dan penuhilah janjimu kepada-Ku niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu dan hanya kepada-Kulah kamu harus takut .”


Saudaraku Boyang tentu juga menyadari bahwa menepati janji Allah dan Rasul-Nya adalah pokok pondasi dari semua janji. Bila seseorang berhasil menepati janji Allah dan rasul-Nya maka ia akan berhasil pula dalam menepati janji lainnya. Sebaliknya, bila ia gagal memenuhi janji Allah dan rasul-Nya maka ia adalah orang yg tidak lagi memiliki janji dan keimanan. Karena antara janji dan keimanan saling berhubungan.

Berdasarkan ayat tadi yangg dimaksud dengan janji Allah adalah beribadah hanya kepada-Nya. Adapun yg dimaksud dengan janji rasul adalah mengikuti perjalanan sirah dan konsep kehidupannya.

Saudaraku Boyang bercerita tentang banyaknya orang yang sudah mulai tak menepati janji. Itu sebabnya, ia hanya dapat berharap dari janji Tuhan. Dan apayang diamalami Saudaraku Boyang, boleh jadi juga banyak dialami saudaraku yang lain. Saya sendiri juga mengalami. Banyak janji yang tinggal janji. Hanya saja, saudaraku Boyang punya sandaran: Tuhan, sehingga ia tidak kehilangan pegangan dan jatuh dalam kemarahan dan kesedihan. Saya juga tengah berjuang untuk mengikuti cara Saudaraku Boyang ini; menghilangkan kemarahan dan kesedihan dengan berpegang pada nilai-nilai ketuhanan. Dan jalan ini tidak ringan karena berliku dan penuh cobaan. Saya harus menuju satu jalan bila ingin sampai ke sana yakni derajat taqwa. Satu derajat yang dapat ditempuh di bulan ini dengan puasa.

Mengapa?

Saudaraku, bulan ramadan, sering disambut sebagai teman yang baik, dan sebagai tamu yang selalu disambut secara terhormat. Banyak orang senang melihat tamu ini datang, kemudian juga untuk melihatnya pergi. Akhir bulan puasa diikuti dengan pesta, lebaran. Itu berarti bahwa kita dapat makan dan minum seperti hari-hari biasa.

Saya teringat dengan istilah di kalangan sufi bahwa pesta ini menyiratkan pertemuan dengan Kekasih.

Syaikh Sharafuddin Maneri yang dikenal sebagai Makhdum al-Mulk bercerita kepada muridnya Syamsuddin Qazi tentang puasa. Ia bilang kekuatan tubuh tergantung pada makanan dan minuman, sedangkan kekuatan rohani akan tergantung pada lapar dan haus. Dalam domain Allah, kelaparan adalah makanan ilahi.

Allah berfirman dalam Surat Al An’am Ayat 14: “Katakanlah, apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak memberi makan?”

Saudaraku, puasa menjadikan kita terhormat. Orang bijak bilang lewat puasa kita berada sejengkal lebih dekat dengan Tuhan dan sedikit jauh dari kondisi manusia. Bagi mereka yang berpuasa semestinya bertindak seperti Tuhan, mereka juga dapat memberi makan orang lain. Dia akan memisahkan dirinya sendiri dari kualitas manusia dan menjadi terhormat dan sangat kaya dalam Dia.

Allah berfirman: “Orang yang berpuasa mengalami sukacita dalam dua hal: pertama saat berbuka dan kedua melihat Allah “.

Apa yang yang dimaksud dengan menyenangkan saat berbuka puasa?

Saudaraku, kita menyadari bahwa tubuh kita terdiri atas banyak kecenderungan. Kini kita adalah bak pencari. Pencari adalah seperti seorang yang ke gunung, bepergian di sepanjang jalan untuk menjumpai teman.

Puasa adalah perintah. Cara untuk mencapai Tuhannya. Jadi tubuh kita puasa dari makanan dan minuman, sementara batin kita melintasi jarak. “Dan bahwa kepada Tuhanmu, Kami kembali” (Q 53:42).

Pada akhir perjalanan, ketika waktu maghrib tiba, kita berhenti untuk berbuka. Makanan dan minuman untuk berbuka akan menjadi sumber kekuatan. Kesenangan seperti ini melingkupi seluruh jiwa sehingga semua kegembiraan lainnya menjadi kesedihan dan kesulitan.

Lalu bagaimana dengan hal yang menyenangkan kedua; melihat Allah?

Saudaraku, ini jelas tidak akan pernah dapat ditangkap melalui penjelasan dan sebagai sesuatu yang harus dialami: “Siapa yang tidak merasakan sesuatu, dia tidak mengerti apa-apa”

Ada 70.000 tirai hijab Allah. Bahkan jika salah satu dari tirai itu diangkat, sinar wajah-Nya dapat dilihat. Dalam tahap tabir cahaya, semuanya dapat dinikmati, akan tetapi siapa yang bisa menjelaskan semua itu?

Saudaraku, ada satu kisah tentang seorang sufi Khwaja Ma’ruf Karkhi yang asyik dalam kontemplasi. Dia berdiri di bawah tahta ilahi, menyanyi memuji Allah dalam kelimpahan syukur.

Kendati tahu siapa sosok sufi ini, Allah bertanya pada malaikat: “Siapa ini?” Salah satu malaikat menjawab: ” Ya Allah, ini adalah hamba yang Engkau bedakan!”

Allah berfirman: “Hamba-Ku Ma’ruf Karkhi mabuk dengan anggur cinta-Ku. Tidak ada yang bisa memulihkan diri dari cinta-Ku kecuali dengan melihat-Ku!”

Ini juga merupakan makna dari apa yang dikatakan Tuhan dalam Taurat: “Buatlah perut kamu lapar, hati dan tubuh kamu haus dan lapar, sehingga memungkinkan kamu melihat Allah di dunia ini”.

Dia yang telah melihat, telah tiba. Dan barang siapa yang telah sampai pada Allah telah melampaui tahap kefanaan hal-hal dan bahkan lebih dari itu dari keabadian. Dia telah dikonsumsi dalam adorasi wajah ilahi. ” Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap” (Q 17:81).

Syaikh Ibn al-‘Arabi mendefinisikan ‘Melihat Tuhan adalah harta segalanya’. Sebuah stasiun spiritual yang sangat tinggi, yang dicirikan oleh rahasia, manifestasi Ilahi dan wahana spiritual.

Saudaraku, saya mengakui, sungguh saya masih jauh dari apa yang saya cita-citakan itu. Saya baru mendapatkan lapar dan dahaga dari puasa sehinga saya malu menagih janji Tuhan.*