Marah. Langsung saja terbayang tentang mata melotot, wajah merah, otot-otot leher metongol, mulut casciscus nggak karuan. Suara menghardik, membentak, lalu brak, meja digebrak diikuti suara kasar; “bodoh kamu…!”

Jelas, itu bayangan tentang bos kalian di kantor yang sedang marah-marah. Bila sudah demikian, kecerdasannya ditaruh di laci, otak warasnya tertutup emosi, kebijaksanaannya hilang entah kemana pergi. Setan masuk melalui pori-porinya yang terbuka, lalu mengipasi agar ia menarik seluruh darahnya ke umbun-umbun.

Muhammad Al-Baqir berkata: “Sesungguhnya, kemarahan adalah api yang dinyalakan setan dalam hati manusia. Ketika salah seseorang dari kamu marah, matanya menjadi merah, urat lehernya menjadi bengkak dan setan masuk dengan leluasa. Barang siapa di antara kamu khawatir tentang dirinya sendiri karena itu, ia harus berbaring sebentar sehingga kotoran setan dapat dihapus dari dia pada waktu itu.. “
Bos kalian yang sedang marah itu seluruh organ tubuhnya merespon dengan cepat. Hormon adrenalin dan hormon-hormon lainnya menyalakan bahan bakar sehingga membuat seluruh organ tubuh seperti hati, pembuluh darah, perut, otak dan kelenjar-kelenjar dalam tubuh langsung bereaksi.

Nah, bila marah terus dipelihara maka kematian akan cepat menyongsong. Begitu setidaknya hasil sejumlah penelitian. Lewat Marah bukan cara menaikkan wibawa dan martabat kita, melainkan sebaliknya justru membuat kita tercela. Imam Ja’far Ash-Shadiq memberi nasihat; “Hindarilah amarah, karena hal itu akan menyebabkan kamu tercela.”

Saudaraku,

Marah, itulah yang kalian bincangkan belakangan ini. Kalian menjadi stress karena bos yang kelewat rajin marah-marah. Celakanya lagi, orang marah kini dapat ditemui dimana-mana. Di jalan, seorang pengendara mobil marah, mencaci maki, karena jalannya dipotong Metromini yang memang terkenal dengan sopir ugal-ugalan. Belum menginjakkan kaki di halaman rumah, terdengar tetangga ribut. Di rumah, kalian marah-marah kepada istri dan anak-anak karena kalian tak dapat menahan emosi saat bos marah-marah di kantor. Rumah yang harusnya menjadi surga telah disulap sebagai tempat pelampiasan amarah.

Dunia telah menjadi rumah sakit besar dengan pasien gangguan emosi. Stres telah menganggu otak kita. Kata-kata sabar, hanya menjadi nasihat klasik untuk sesaat didengar, kemudian dilupakan.

Pada Ramadan kali ini, kalian menggugat tentang kondisi itu. “Bukankah puasa sebagai bulan pengendalian diri, mengapa amarah masih ada di mana-mana?”

Kalian dengan fasih mengurai, puasa mengandung pesan agar kita menghindari perilaku yang tidak sehat, termasuk perilaku yang didorong oleh emosi. Marah dapat mengurangi nilai ibadah puasa, begitu kajian ilmu fikih. Rasulullah menyatakan jika orang yang berpuasa dimaki atau dilecehkan harkat martabatnya, maka hendaknya ia mengataan “aku puasa”. Tapi kenyataan kan tidak demikian.

Kalian tampaknya sangat terluka dan banyak orang di antara kalian kini terluka karena menjadi tempat pelampiasan amarah orang-orang yang merasa menguasai atas dirinya.

Saudaraku,

Amarah memang menimbulkan luka yang sulit tersembuhkan. Saya menjadi teringat cerita seorang bijak. Konon dahulu kala, di sebuah daerah, ada seorang anak yang memiliki emosi yang buruk. Dia sangat pemarah. Sang ayah bingung mendapati anaknya yang sering marah itu. Lalu ia memberinya sebuah palu dan sekantong paku. Kepada sang anak dia mengatakan, “jika setiap kali kau marah tancapkan paku ini di pagar.”

Pada hari pertama anak itu menancapkan 37 paku ke pagar. Pada hari berikutnya juga tak jauh dari angka itu. Selama beberapa minggu, jumlah paku yang ditancapkan berkurang. Anak ini menemukannya cara lebih mudah menahan amarahnya ketimbang memaku pagar.

Akhirnya hari itu datang. Ketika anak ini merasa sudah tidak marah lagi dan mengatakan kepada ayahnya. Selanjutnya sang ayah meminta ia mencabut satu per satu paku dari pagar setiap harinya, untuk membuktikan ia telah mampu menahan emosinya. Hari berlalu dan anak itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku sudah dicabut.

Sang ayah mencek laporan sang anak. Sembari membimbing anaknya menuju pagar dia berkata, “Kamu telah melakukan dengan baik, anakku, tapi lihatlah lubang-lubang bekas paku di pagar itu.”

Pagar itu tidak akan pernah sama. Ketika kamu marah kepada seseorang, maka akan meninggalkan bekas luka seperti pagar itu. Kamu dapat menodongkan pisau pada seseorang, lalu membatalkannya. Tidak peduli berapa kali kamu mengatakan menyesal, lukanya masih ada dan terus membekas.

Lalu mengapa kita harus marah-marah kalau itu hanya untuk menimbulkan luka? Luka diri kita, maupun luka kepada orang lain. Maka kata-kata klasik itu tetap menjadi nasihat; Bersabarlah.. agar kita tak menjadi budak amarah.