Saudaraku,

Malam ini seorang di antara kalian datang kepadaku dengan wajah lusuh. Ia mengeluh karena banyak dipersalahkan kalian. Ia merasa inferior dan mengutuk dirinya karena seperti tak berguna. Apa sebab? Semua yang dilakukan dianggap salah oleh teman-teman. Ia merasa terpojok dan memutuskan untuk pergi dari kalian.

Saya memutuskan untuk mendengar keluhannya, kendati malam ini saya agak lelah setelah menghadapi rutinitas siang tadi. Jakarta yang tak pernah sepi dari macet membuat penghuninya sungguh dilanda stres. Buka puasa bersama keluarga yang telah saya jadikan sebuah kewajiban, terasa melelahkan. Tarif TDL yang naik membuat kantor harus berhemat, sehingga saya tak bisa berlama-lama di kantor hanya untuk sekadar menunggu jalan lebih nyaman.

Saudaraku,Kita sudah merasakan, betapa banyak orang stres di sekitar kita sehingga setiap kalimat yang akan kita ucapkan harus disaring agar tidak menyinggung perasaaan orang lain. Kata-kata harus kita hemat dan harus kita keluarkan jika benar-benar memiliki manfaat bagi orang lain, termasuk teman-teman sendiri.

Dalam kondisi begini, saya menjadi teringat guru mengaji saya waktu saya masih kanak-kanak. Beliau bercerita, ada sekelompok kodok bepergian melewati hutan, tiba-tiba dua ekor kodok jatuh terjebak dalam lubang yang dalam. Kodok yang selamat berkumpul di sekitar lubang. Ketika mereka melihat ke dalam lubang, mereka mengatakan kepada kodok malang itu bahwa sulit untuk selamat. Mustahil bari mereka untuk dapat keluar dari lubang yang dalam itu. Kedua kodok mengabaikan komentar teman-temannya dan mencoba melompat dari lubang.

Katak-katak lainnya mengatakan kepada mereka untuk menghentikan usaha yang sia-sia itu. Seekor kodok mendengarkan apa dikatakan kodok lain itu. Ia menyerah, lalu jatuh dan mati.

Tapi ada satu kodok yang terus berjuang melompat sekuat tenaga. Sekali lagi, kerumunan kodok berteriak padanya untuk menghentikan rasa sakit dan penderitaan seperti itu. Tapi dia tetap melompat bahkan lebih keras dank eras lagi hingga akhirnya ia berhasil keluar.

Ketika ia lolos dari lubang maut itu katak-katak lain bertanya, “Kenapa kau terus melompat? Apa kau tidak mendengar kami”

Kodok itu bilang ia tuli. Ia pikir para kodok itu memberikan support agar ia terus berjuang sepanjang waktu.

Saudaraku,

Guru saya mengatakan kisah ini memberikan pembelajaran bahwa ada kekuatan kehidupan dan kematian di lidah. Sebuah kata yang membesarkan hati seseorang yang sedang down bisa mengangkat mereka dan membantu mereka melewati kesulitannya.

Sebaliknya, kata yang destruktif kepada seseorang yang tengah mengalami masalah, dapat membunuh mereka. Jadi berhati-hatilah dengan apa yang kita katakan. Kekuatan kata-kata kadang-kadang memang sulit untuk dipahami. Bahwa sebuah kata bisa memberi motivasi kepada seseorang akan tetapi juga dapat mendorong orang frustasi. Dan sungguh mudah berbicara dengan kata-kata yang merampok semangat orang di masa-masa sulit seperti ini.

Kini saya berharap teman kita yang mengeluh itu adalah kodok budeg, sehingga tak perlu bunuh diri.