Keinginan bagai sumur tanpa dasar. Begitulah, saya pernah bilang pada kalian. Kalian mengangguk setuju. Di antara kalian, dulu, mengiba minta pekerjaan. Teman kita yang lain memberi kalian pekerjaan dengan embel-embel mengingatkan bahwa gajinya kecil. “Nggak apa yang penting saya bisa bekerja,” katamu. Beberapa bulan kamu bekerja. Kehidupan kamu berubah dari seorang penganggur menjadi orang kantoran. Tapi pagi itu kau datang padaku, “Kerja ini banyak tuntutan tapi gaji kecil,” Kamu mulai protes. Kalian tentu masih ingat, saya hanya tersenyum. Dengan sabar saya mendengar kata per kata, kalimat per kalimat yang kau diucapkan.

Saudaraku,

Percayalah, saya mengerti apa yang kalian maksud. Dalam membangun perusahaan memang tak mudah. Kita harus membangun perusahaan menjadi sehat agar karyawan juga sehat. Perusahaan yang sakit tak mungkin membuat karyawan sehat. Perusahaan akan mati bila itu dilakukan. Protes kalian akan sangat lazim dan masuk akal, jika kondisi perusahaan sehat, tetapi tak memperhatikan karyawannya yang sakit. Ini hanyalah perusahaan dengan lima orang karyawan saja. Bersyukurlah, karena perusahaan mini ini dapat menampung kalian yang menganggur. Dapat membuka lapangan kerja. Menghargai kalian untuk bersama-sama membangun masa depan bersama.

Saudaraku,

Saya tak hendak terlalu banyak berargumentasi mengenai masalah perusahaan dan gaji kalian yang kecil. Saya hanya ingin mengingatkan kalian tentang keinganan manusia yang memang tiada habisnya. Dulu kalian minta perkerjaan, setelah kalian diterima bekerja, kalian ingin gaji tinggi. Dan percayalah, setelah itu kalian akan minta fasilitas ini itu dan setelah itu minta yang lain lagi. Itu sudah menjadi tabiat manusia.

Saya ingin menceritakan kisah yang pernah saya dengar dari orang bijaksana. Tersebutlah sebuah kerajaan nan makmur di jaman dulu. Rajanya amat berkuasa dan kaya raya. Pagi itu, raja keluar dari istananya untuk plesir. Di tengah jalan sang raja bertemu dengan seorang pengemis. “Apa yang engkau inginkan?” tanya raja pada pengemis itu.

Kere itu tertawa lalu berkata, “Anda bertanya begitu seolah-olah dapat memenuhi keinginan saya.”

Raja tersinggung. Dengan wajah garang berkata, “Tentu saja aku bisa memenuhi keinginan kamu. Katakan saja, apa yang kamu inginkan?”

“Berpikirlah dua kali sebelum Anda menjanjikan sesuatu,” ucap pengemis itu enteng sembari tersenyum sinis.

“Aku akan memenuhi apa saja yang kamu minta. Aku ini seorang raja yang sangat kuat. Tak mungkin aku tak mampu memenuhi keinginan kamu. Katakan saja, apa keinginan kamu,” suara raja meninggi.

“Saya meminta sesuatu yang sederhana, lihatlah ini mangkok,” kata pengemis itu sembari menyodorkan benda cekung di tangannya. “Isilah mangkok ini dengan sesuatu,” lanjutnya.

“Tentu saja!” Raja menjawab dengan tak sabar.

Raja lalu memerintahkan salah seorang wazir. ” Isi mangkok pengemis itu dengan uang.” Wazir itu menjalankan perintah sang raja, mengisi mangkok pengemis dengan uang. Anehnya, tiap keping uang yang dimasukan ke dalam mangkok langsung menghilang. Wazir memasukkan uang lebih banyak lagi ke dalam mangkok, berkali-kali dan setiap kali dimasukkan tak ada bekas. Mangkok pengemis itu tetap saja kosong.

Seluruh penghuni istana berkumpul. Orang-orang yang mendengar berita ini berbondong-bondong menuju lokasi. Terjadilah kerumunan besar. Prestise raja dipertaruhkan. “Jika seluruh kerajaan harus hilang, saya siap. Tapi aku tidak bisa dikalahkan oleh pengemis ini,” ucap raja dengan mata merah.

Berlian, mutiara, emas dan zamrud semuanya dikeluarkan dari peti kerajaan dan dimasukkan ke dalam mangkok pengemis. Ajaibnya, mangkuk mengemis itu tak memiliki dasar. Segala sesuatu yang dimasukkan ke dalamnya segera menghilang. Akhirnya, malam tiba, orang-orang berdiri di berkerumun dalam keheningan total. Tiba-tiba raja menjatuhkan diri dan merangkul kaki pengemis itu. Ia mengaku kalah. “Aku kalah,” katanya mengiba. “Tapi sebelum kau pergi, pemenuhilah rasa ingin tahu saya. Terbuat dari apakah mangkuk itu?” tanya raja dengan lunglai.

Pengemis itu tertawa mengejek lalu berkata, “Mangkuk ini terdiri rahasia pikiran manusia. Terbuat dari keinginan manusia.”

Pemahaman ini mengubah kehidupan. Tatkala Anda pergi ke salah satu keinginan, apa yang Anda dapatkan? Pertama ada kegairahan besar, getaran yang besar juga petualangan. Sesuatu akan terjadi, Anda berada di ambang itu. Maka Anda memiliki kereta dan istana dan semua berlian di dunia. Tapi kini tiba-tiba semua tidak berarti lagi.

Apa yang terjadi? Pikiran Anda memiliki dematerialized itu. Kereta kencana ini berdiri gagah di jalan, tapi tidak memberi kepuasan lagi. Kegembiraan itu hanya dirasa tatkala baru didapatkan. Anda menjadi sangat mabuk dengan keinginan. Anda lupa ketiadaan batin Anda. Kini semua keinginan terpenuhi. Punya kereta, berlian di tangan tapi gairah menghilang. Sekali lagi, kekosongan itu ada, siap memakan Anda. Sekali lagi, Anda perlu membuat keinginan untuk melarikan diri dari semua ini.

Itulah bagaimana seseorang bergerak dari satu keinginan untuk keinginan yang lain. “Itulah tabiat pengemis. Dalam kenyataannya Anda yang pengemis. Seluruh hidup Anda membuktikan hal itu, lagi dan lagi. Anda selalu ingin ini dan itu. Dan ketika satu keinginan tercapai, Anda akan membutuhkan keinginan lainnya,” kata pengemis itu.

Pada satu hari, kata pengemis itu lagi, Anda akan memahami bahwa keinginan seperti itu takkan memuaskan Anda. Saya merasa puas karena Tuhanku yang paling tinggi telah memberikan kebutuhan saya.

“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung, dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rizki kepadanya. (QS. Al Hijr, 15: 19-20).

Saudaraku,

Itu adalah kisah pengemis dan raja. Kita bukan raja tapi jangan pula menjadi pengemis yang hanya pandai membangun keinginan demi keinginan. Tentramkan hati kita dengan mengingat Allah. “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS 13:28).

Jangan habiskan energimu hanya untuk keinginan demi keinginan itu. Cukupkanlah diri kita dengan apa yang diberikan Allah pada hari ini. Jika memang kalian ingin perbaikan gaji maka berjuanglah dengan berbaik-baik dengan sang malaikat pembagi rezki..