Gadis cantik itu bernama Ana. Yah, tema pembicaraan kalian belakangan ini tentang si gadis nan jelita itu. Cerita tentang si seksi itu mengalir tak habis-habisnya. Kalian yang telah menikah mengatakan; “Andai aku masih muda, tentu akan kugaet dia…” Sedangkan kalian yang masih lajang, menganggap diri tak tampan, berkata, “Andai aku kaya maka akan kupersembahkan apa pun yang ia minta..” Seakan Ana akan kepincut hartamu, bila tak sudi dengan tampangmu.

Kalian seakan mengakui, insan pemimpi tak berdaya. Bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Sampai satu ketika kalian terkaget-laget ketika seorang pria berkulit legam, pengendara sepeda motor tua, menjemputnya dari kantor. Seorang di antara kalian memberanikan diri bertanya: “Siapa cowok itu Ana?” dengan mantap Ana menjawab, “Cowok gue!”

Kalian bungkam seribu bahasa. Kalian salah dalam mengukur diri kalian sendiri. Kalian tenggelam oleh pesona kecantikan Ana. Kalian tak yakin bahwa kalian juga tampan dan layak untuk gadis secantik Ana.

Saudaraku,

Saya menjadi teringat cerita bijak yang pernah disampaikan seseorang kepadaku tentang burung merak.

Burung yang indah. Begitulah gambaran tentang merak. Dia sungguh cantik bila sedang manari. Bak bunga yang sedang mekar. Mendengar tentang merak, hal pertama yang terlintas di pikiran kita adalah warna yang indah dari bulu burung ini. Biru, hijau, emas yang berkilau. Burung ini memiliki lambang, atau mahkota, di atas kepala mereka, membuat merak lebih anggun.

Ada tiga kategori; Merak Biru, Merak Hijau, Merak Putih. Semuanya cantik. Merak Biru mempunyai bulu berwarna biru gelap mengilap. Merak jantan dewasa berukuran besar, panjangnya dapat mencapai 230cm, dengan penutup ekor yang sangat panjang berwarna hijau metalik. Di atas kepalanya terdapat jambul tegak biru membentuk kipas.

Pada musim berbiak, burung jantan memamerkan bulu ekornya di depan burung betina. Bulu-bulu penutup ekor dibuka membentuk kipas dengan bintik berbentuk mata berwarna biru.

Saudaraku,

Menurut cerita, kendati merak adalah burung nan indah, tatkala ia melihat kakinya, ia merasa sedih dan menangis, “Mengapa kaki saya dibuat begitu jelek? Allah telah menciptakan tubuh saya bagus dan gemuk, tetapi Dia memberi saya kaki yang kurus dan hitam. Mengapa Dia tidak menciptakan kakiku agar serasi dengan tubuhku?”

Merak khawatir tentang kakinya. Ia sedih tentang lapisan tipis kulit hitam yang menutupi kakinya. Padahal di bawah kulit kakinya tidak hitam. Ia tidak menyadari hal ini. Dia begitu tatkala sedang menari, memamerkan warna-warna yang indah, tapi setelah itu, ia menggantung kepalanya dan tertekan, jika mengingat kakinya yang buruk.

Saudaraku,

Allah juga menciptakan manusia dalam berbagai warna. Ada warna mata, wajah, dan kulit yang berbeda. Rambut nan indah di kepala juga berbeda antarras. Manusia memiliki banyak jenis perbebedaan fisik dan itu justru menimbukan keindahan. Suara yang indah sampai gigi yang indah. Manusia adalah makhluk yang paling indah dari semua ciptaan.

Manusia berwarna-warni, seperti burung merak. Dia berisi warna bumi, api, air, udara, dan eter. Mondar-mandir seperti burung merak. Menari di atas dunia dengan cara yang indah. Tapi pikirannya hitam. Dan seperti burung merak merasa sedih tentang kakinya, orang menjadi tertekan ketika ia melihat pikirannya. Walaupun dia mungkin memuji kecantikan fisik, dia menjadi depresi ketika ia melihat kesedihan itu. Kesedihan akan perbedaan pikirannya.

Manusia harus menyadari bahwa dia benar-benar indah. Jika ia dapat menghilangkan kegelapan pikiran, ia tidak akan lagi depresi. Semuanya dalam dirinya akan menjadi indah, jelas, dan bahagia. Semua yang menyusahkan akan meninggalkan dia.

Pikiran hitam adalah apa yang salah tentang dia. Pikiran, keinginan, ego, marah, tergesa-gesa, kebanggaan, kecemburuan, iri hati, kebencian, keraguan, penipuan, ilusi, dan begitu banyak sifat-sifat buruk lainnya menyebabkan kegelapan ini. Jika kita dapat menghilangkan ini, hanya keindahan Allah akan tetap. Setiap orang yang melihat akan benar-benar takjub.

Pikiran yang meliputi hati kita seperti disisipkan ke kulit kaki merak. Jika kita mengelupas kulit kaki dari merak, mereka tidak akan hitam lagi. Dan jika kita melepas lapisan tipis dalam pikiran, kita akan sangat indah. Tidak seperti merak yang hanya melihat keindahan luarnya. Kita akan melihat keindahan Allah baik dalam maupun di luar.

Saudaraku,
Kita hendaknya mengupas dan membuang kegelapan ini. Maka kita tidak akan pernah merasa tertekan lagi. Kita harus memotong pikiran yang gelap. Kemudian kita mendapati kedamaian, ketenangan, kesetaraan, keadilan, kesatuan, rahmat, kasih sayang, dan kualitas Allah.

Kita akan memiliki kebebasan hidup di dunia ini, dalam dunia jiwa, dan di dalam Kerajaan Allah. Berusahalah untuk belajar apa yang benar dan apa yang salah, serta mengupas semua yang salah.

Jadi mengapa kalian masih sibuk mempersoalkan kulit hitammu itu?