Sebagian dari kita menghadapi persoalan hidup dalam penderitaan.  Hidup serba kekurangan dan sering mendapatkan penghinaan. Baru jatuh cinta langsung putus tus. Baru menjabat tiba-tiba tergusur. Kaya mendadak, miskin pun tiba-tiba. Rasa sakit demikian sungguh memilukan. Sebagian dari kita mampu menahan sakit, bahkan tak tampak sedang sakit. Sedangkan sebagian dari kita mengerang, merintih dan memaki.

Suatu hari, seorang guru dan muridnya duduk di tepi danau. Ia tiba-tiba mengambil air dari danau nan jernih dengan sebuah gelas. Selanjutnya ia memerintahkan  muridnya itu memasukkan segenggam garam dalam segelas air itu lalu memita muridnya untuk meminumnya. Belum lagi masuk dalam kerongkongan, sang murid mumuntahkan air itu. Bah……

“Bagaimana rasanya?” tanya sang guru belagak pilon.

“Asin…,” ujar murid sembari meludah berkali-kali.

Sang guru tertawa. Kemudian ia meminta murid itu mengambil segenggam garam lagi dan meminta muridnya menabur garam itu ke dalam danau. Setelah garam ditabur, guru itu mengambil air dari danau lagi dan memerintahkan muridnya untuk minum air itu.

Saat murid itu meneguk air, sang guru bertanya. “Bagaimana rasanya?”

“Segar!” jawab murid.

“Apakah kamu merasakan garam?” tanya guru.

“Tidak…!”

Guru itu lalu menggeser duduknya mendekati muridnya. Ia memegang tangan sang murid dengan kasih dia  berkata, “Rasa sakit dalam hidup adalah garam murni, tidak lebih, tidak kurang. Jumlah penderitaan hidup tetap sama, persis sama. Tetapi jumlah yang kamu rasakan tergantung pada wadah dan volume air yang akan kita masuki garam. Jadi, ketika kamu sakit, satu-satunya hal yang dapat kamu lakukan adalah memperbesar wadah yang akan menampung rasa. Berhentilah menjadi gelas tapi jadilah danau..!”

Lalu, apakah kita termasuk air dalam gelas atau sebuah danau?