Malam ini kalian tidak salat tarawih berjamaah. Kalian mengatakan akan salat tarawih di rumah masing-masing, tanpa jamaah. Okelah, kalau begitu. Tapi kalian berbicara bermacam-macam yang muaranya pada uang dan barang-barang berharga. Saudaraku, apakah sebenarnya yang kalian inginkan?

“Kebahagiaan..!” jawab kalian serentak.

“Seberapa banyak materi yang dapat membahagiakan kalian?”

“Ya, banyak?”

“Jika demikian, maka materi takkan mampu membahagiakan kalian..”

Saudaraku,

Saya pernah mendengarkan sebuah cerita tentang duit Rp10 miliar dan kalung berlian. Begini kisahnya; seorang raja memberi hadiah putri kesayangannya berupa kalung berlian yang sangat indah. Suatu ketika kalung itu hilang dicuri. Raja mengerahkan seluruh pasukannya untuk mencari berlian itu tapi upaya ini tak membuahkan hasil. Raja menyampaikan sayembara, siapa saja yang menemukan kalung berlian itu akan diberi hadiah Rp10 miliar. Pengumuman sayembara ini sampai ke pelosok negeri.

Suatu hari, seorang satpam berjalan di sepanjang sungai di samping kawasan industri. Sungai ini benar-benar tercemar, kotor dan berbau. Saat ia berjalan, pria ini melihat kilauan di tengah sungai kotor itu. Ia memandang takjub. “Oh, itu rupanya kalung berlian yang dicari-cari itu,” pikirnya.

Ia memutuskan untuk mencoba mengambil kalung itu. Di benaknya Rp10 miliar bakal ia dapat. Ia mencoba menjulurkan tangannya beberapa kali, tapi gagal. Ia berpikir berkali-kali untuk menjebur ke kali yang kotor dan bau limbah itu. “Sangat berisiko,” pikirnya.

Ia kembali mencoba mengukurkan tangannya dan sejengkal masuk ke sungai yang kotor. Anehnya, kalung itu tak juga dapat diambil. Ia memperhatikan baik-baik benda itu. Masih ada. Ia mencoba lagi mengambil. Gagal. Akhirnya ia frustasi. Celana dan tangannya telah belepotan kotoran tapi gagal mengambil barang berharga itu. Ia akhirnya kembali menyusuri sungai itu dengan langkah gontai. Anehnya, ia masih memikirkan kalung itu. Ia merasa tertekan.

Maka ia memutuskan kembali lagi ke lokasi kalung itu. Kali ini ia bertekad untuk mendapatkannya, apa pun akan dilakukan. Dia memutuskan untuk terjun ke dalam sungai lagi. Dia jatuh, dan mencari kalung itu, namun ia gagal. Kali ini ia benar-benar bingung dan keluar dari sungai dengan frustasi. Bayangan 10 miliar hilang sudah.

Pada saat itu, seorang lelaki tua bertongkat, melihat dirinya yang belepotan air kotor. Pak tua bertanya, apa yang terjadi. Satpam ini enggan mengakui karena ia khawatir harus membagi jika dapat hadiah nanti. Satpam ini diam saja. Tapi Pak Tua tahu bahwa pria ini tengah menghadapi masalah. Sekali lagi orang tua ini mendesak agar satpam  bercerita apa yang terjadi. Ia berjanji tidak akan memberitahu siapa pun. Akhirnya satpam ini  bercerita tentang kalung itu. “Saya mencoba mengambil tapi gagal,” katanya.

Pak Tua mengatakan, “cobalah kamu melihat ke atas, ke arah cabang-cabang pohon, bukan ke sungai yang kotor itu.”

Satpam itu mendongak dan terkejut ketika melihat kalung itu tergantung pada cabang pohon.  Ia menyadari bahwa yang dilakukan tadi hanyalah pantulan berlian yang menggantung di dahan pohon.

Saudaraku, kebahagiaan dunia materi bak sungai tercemar, sungai kotor; karena merupakan cerminan dari kebahagiaan kebenaran dunia spiritual .

Kita tidak pernah bisa mencapai kebahagiaan yang kita cari, tidak peduli seberapa keras kita berusaha dalam kehidupan material. Sebaliknya, kita harus melihat ke atas, ke arah Allah, sumber kebahagiaan sejati. Berhentilah mengejar kebahagiaan di dunia materi, karena kebahagiaan rohani adalah satu-satunya yang dapat memuaskan kita sepenuhnya.***