Politik memang menggelitik. Sejumlah orang yang tadinya nenteng-nenteng proposal, mencari proyek tiba-tiba melejit menjadi wakil rakyat. Mereka yang tadinya berkoar-koar di jalan tiba-tiba memakai dasi dan biacara tentang nasib rakyat. Tapi sebagian di antara mereka banyak juga yang apes, tetap menenteng proposal dan meraung-raung di jalanan menyuarakan protes. Mereka bak bajaj tak dapat penumpang, akhirnya berbaris dalam barisan sakit hati. Mereka stres karena tak juga mendapatkan pekerjaan, apalagi jabatan.

Stres memang banyak sebab. Salah satu adalah karena impian, cita-cita dan keinginannya tak tergapai. Pola hidup yang lebih besar pasak daripada tiang juga penyebab lainnya. Para peneliti menyimpulkan  bahwa sebagian orang memiliki kecenderungan inheren untuk mengaksentuasi aspek-aspek negatif dunia secara umum. Jika kesimpulan ini benar, faktor individual yang secara signifikan memengaruhi stres adalah sifat dasar seseorang. Artinya, gejala stres yang diekspresikan pada pekerjaan bisa jadi sebenarnya berasal dari kepribadian orang itu.

Begitulah bahasan kita malam tadi. Saya menjadi teringat akan kisah wadah dan isinya. Suatu ketika, beberapa mantan mahasiswa mendatangi dosen sebuah universitas yang pernah mengajarnya. Mereka berbincang-bincang berbagai hal sampai kemudian mengarah pada masalah stres dalam pekerjaan dan kehidupan mereka sehari-hari.

Dosen itu tersenyum. Ia bernjak dari tempat duduknya dan pergi ke dapur. Ia kembali dengan bermacam-macam cangkir. Ada cangkir terbuat dari porselin, plastik dan  terbuat dari kaca. Cangkir ini sebagian tampak mahal harganya karena sangat indah dan sebagian lagi murah.

Dosen itu mempersilakan masing-masing mantan mahasiswa itu mengambil cangkir untuk mendapatkan minuman bagi diri mereka sendiri.

Ketika semua sudah mengambil cangkir yang telah terisi air sang dosen berkata, “Jika kalian melihat, semua dari kalian mengambil cangkir yang mahal dan indah dan tak menyentuh yang murah.

Ini menunjukkan kalian memang menginginkan yang terbaik untuk dirimu. Masalah dan sumber stress kalian sebenarnya adalah cangkir, karena kalian selalu mengejar cangkir yang lebih baik padahal yang kalian butuhkan adalah air.

“Sama seperti dalam hidup, jika hidup adalah air, maka pekerjaan, uang dan posisi dalam masyarakat adalah cangkir. Mereka hanya alat untuk memegang dan menjaga hidup, tapi semua itu tak mengubah kualitas hidup kita..”

“Jika kalian hanya berkonsentrasi pada cangkir, kita tidak akan punya waktu untuk menikmati, rasa dan menghargai air di dalamnya.”

Masalah pertama kita adalah mata yang selalu dilanda kerinduan untuk hal-hal yang orang lain miliki, dan melupakan karunia kita sendiri yang diberikan oleh Allah dan lupa untuk menikmatinya.

Allah berfirman: “Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. 20:131).

Kedua, kita seringkali mengeluh tentang sakit sepele dan masalah yang kita hadapi di dunia ini, sementara melupakan penderitaan yang sebenarnya yang boleh jadi akan kita hadapi di akhirat kelak lantaran kesalahan dan kelalaian. Kita juga lupa untuk menyadari bahwa kesenangan yang sebenarnya adalah bila kita mampu memenuhi tugas kita untuk meringankan penderitaan orang-orang di sekitar kita.

“Dan demikanlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya terhadap ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.” (QS. 20:127)

Ketiga, kita seringkali setelah kemudahan lupa inti tujuan hidup kita, yang merupakan ujian dengan penuh penderitaan untuk mendapatkan pahala dari Tuhan kita di syurga di akhirat. Allah berfirman: “Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (QS28 : 60).Keempat, kita mengambil kehidupan di dunia seakan langgeng dan menghabiskan semua, seolah-olah kematian adalah untuk ‘orang lain dan bukan aku’, sementara kita melupakan fakta bahwa kehidupan kekal hanya du akhirat. “Tetapi akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (87:17)

Jadi berhentilah mengeluh. Mari kita nikmati dan menghargai hidup kita yang merupakan investasi untuk kebahagiaan di akhirat.

Ali Ibn Thalib bertanya: “Jika diberikan pilihan, apa yang akan Anda lebih suka: kehidupan di dunia ini atau kematian?”

Ali terkejut tatkala seorang pria  membalas: “Saya akan memilih kehidupan di dunia ini karena melalui itu saya akan dapat memperoleh kenikmatan” Tuhanku. Begitulah.