Musim haji telah tiba. Sebagian dari total 200-an ribu umat Islam Indonesia mulai mengalir ke Tanah Suci, Mekkah. Minat haji tak pernah kendor walau di saat krisis ekonomi mendera sekalipun. Umat Islam Indonesia harus menunggu bertahun-tahun untuk dapat giliran berhaji. Walau sebagian dari mereka bisa pergi haji saban tahun, berkali-kali. Biasa. Ini masalah permainan dan hanya sedikit orang yang tahu kiatnya.

Haji memang mengundang minat. Soalnya, ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang punya banyak iming-iming. Ada iming-iming al-hajju al-mabrur laisa al-jaza illa al-janah, haji mabrur tiada balasan kecuali surga. Ada iming-iming ongkos naik haji sama dengan ongkos untuk berjihad di jalan Allah. Lalu, satu rupiah akan diganti dengan tujuh ratus kali lipat dan banyak lagi.

Sudah lazim, seseorang yang pulang haji senantiasa ada perubahan. Paling tidak, contoh di kampung Ustad Mbeling, sepulang haji mereka biasanya dikasih titel pak haji bagi laki-laki dan bu hajjah bagi perempuan. Perubahan lain, topi putih, topi khas pak haji dan sorban selalu dikenakan bila ke masjid, kondangan atau menghadiri pengajian. Bila ikut kendurian di kampung, pak haji duduk paling depan, kumpul dengan mereka sesama haji. Kelas mereka di tengah masyarakat lebih tinggi ketimbang mereka yang bukan haji.

Malam itu, usai salat Isya di mushala, Kenyung senyum-senyum sendiri. Rupanya ia membayangkan bisa pergi haji. Nama Kenyung bisa diganti dengan yang lebih islami, nama dari Mekkah, misalnya menjadi Abdullah, Abdulrahim atau lainnya yang nggak Kenyung lagi. Ia bisa mengenakan topi putih dan sorban ke mana pergi. Duduk di depan di saat kenduri.

Ustad Mbeling memutar tasbih, duduk bersila di samping Kenyung. Mulutnya komat-kamit. “Ustad kenapa nggak mau dipanggil haji?” Kenyung memecah kesunyian ketika melihat Ustad hendak beranjak.

“Kenapa saya harus dipanggil haji?” Ustad mengayun langkah keluar dari mushala.

“Karena Ustad sudah haji dan itu kan titel bagi mereka yang sudah menjalankan rukun Islam kelima.” Kenyung mengikuti langkah Ustad dari belakang.

“Kenapa kamu nggak panggil saja musholli bagi mereka yang rajin salat atau kau kasih titel muzakki bagi yang telah zakat, lalu titel shoim bagi yang rajin puasa?”

“Ya nggak tahu… Itu kan nggak lazim.”

Ustad menghentikan langkahnya begitu sampai teras rumahnya. Ia duduk di kursi. Kenyung duduk di kursi yang lain. Kenyung menatap tajam ke wajah Ustad Mbeling yang agak ogah-ogahan diajak bicara. Kenyung seakan sehabisan kata.

“Kenapa ustad nggak mau dipanggil Haji?” tanya Kenyung masih penasaran.

“Apakah kalau aku mau dipanggil haji lantas akan ada perubahan?” Ustad balik bertanya, sambil terus jarinya memutar tasbih.

Kenyung cuma melongo. “Iya, ya, apakah dengan seseorang dipanggil haji akan ada perubahan?” Kenyung bertanya dalam hati. “Tapi itu kan status sosial. Itu penting…” sergah Kenyung. Ustad tersenyum. Seorang perempuan datang dari dalam rumah membawa dua cangkir kopi. Ia menaruh dua buah cangkir di atas meja. Menyalami Ustad lalu, mencium tangannya.

“Urusan haji memang banyak titel Nyung. Ada yang punya titel haji wahyu, berhaji karena sawah payu, ada titel haji dolmah, haji dari adol omah, adol lemah. Ada titel haji bakyu, pergi haji setelah tambaknya payu atau laku terjual. Lalu ada haji abidin, haji atas biaya dinas,” ujar Ustad, setelah perempuan itu kembali ke dalam rumah.

Kenyung terkekeh. Ia mencoba nyeruput kopi yang baru saja dihidangkan itu. Urung, karena masih terlalu panas.

“Lalu mengapa Ustad tidak mengenakan topi haji, sorban, ya layaknya haji-haji yang lain itu?”

“Jawabannya sama Nyung. Aku tak menemukan ajaran yang kayak gitu dalam Islam. Sejak zaman Rasulullah para sahabat dan tabiin tidak ditemukan tambahan titel haji semacam itu. Juga tidak ada pakaian khusus begitu.” Ustad terus berbicara sembari memasukkan tasbih ke saku bajunya. Ia angkat tutup cangkir lalu meniup kopinya. Pelan-pelan ia seruput. “Pernah nggak, kamu berpikir penggunaan titel haji itu merusak ketulusan niat ibadah haji seseorang? Lalu gara-gara titel seperti itu dapat memunculkan sifat daqaiqurriya, sifat pamer. Bisa saja aku terkena sifat pamer. Itu yang justru dapat menghanguskan semua pahala dhiya’il ujur..”

“Nyatanya titel haji sudah menjadi bagian dari legitimasi formal tingkat spiritualitas seseorang. Dan itu wajar, karena haji kan memang banyak membutuhkan biaya,” Kenyung belum mau mengalah. Ia tiup kopinya lalu menyeruputnya. Seakan ada tambahan energi baru ketika kopi meluncur ke perutnya.

“Apakah titel tersebut menunjukkan kualitas spiritual secara subtansial seseorang?” Ustad bertanya.

Nabi pernah bersabda, “Allah tidak melihat (kualitas iman) kamu sekalian dari pakaian dan titel, gelar, yang dipakai, tetapi dari keimanan yang ada dalam hati.”

Ukuran kualitas spiritual secara subtansial seseorang bukan dari titel haji tapi sejauh mana ibadah-ibadah yang telah dilaksanakan dapat memberi atsar, membekas positif, dalam hati sanubari dan terefleksikan dalam kehidupan sehari-hari. “Bukankah nilai ibadah seseorang sangat tergantung pada keikhlasan hamba menghadap kepada Allah?”

Ibadah haji pada dasarnya sama dengan ibadah-ibadah yang lain seperti salat, puasa dan zakat, yakni sebagai fondasi agama, rukun Islam. Semua mempunyai misi yang sama yakni terakumulasi dalam ajaran yang selalu responsif terhadap sosial-kemanusiaan, antroposentris. “Persentase haji hanya 25% dari ajaran Islam dan itu pun hanya sebagai tiang fondasi, belum pada subtansi ajarannya.”

“Masyarakat menganggap haji adalah ibadah prioritas dan ibadah prestise,” Kenyung tetap nyinyir, belum puas dengan penjelasan Ustad. Di mata Kenyung ibadah haji adalah ibadah yang mampu mengangkat citra sosial. Orang yang sudah beribadah haji dianggapnya sebagai orang Islam yang sempurna–kaffah.

“Lha bagaimana dengan Kaji Mad itu. Masuk bui karena korupsi. Lalu ada Kaji Kasan yang ketangkep basah kelonan ama bini orang?” Ustad langsung tunjuk hidung. “Realitanya juga, ada orang yang sudah berhaji, tapi salat atau zakat atau puasa wajibnya belum berjalan dengan baik.”

Kenyung terdiam. Pikirannya melayang. Benar juga. Dengan bertambahnya jumlah orang-orang yang sudah berhaji, mestinya memberikan implikasi positif terhadap perubahan perilaku dan kondisi masyarakat ke arah yang lebih baik. Nyatanya? Kenyung geleng-geleng kepala. Ciri haji mabrur adalah, setelah berhaji perilaku mereka dalam kezuhudan dunia, kepekaan sosial dan amal keakhiratan makin bertambah. Nyatanya? Benarkah amat sedikit para haji yang mabrur? ***