Ada aroma politik dalam konflik di Universitas Indonesia. Pemberian gelar doktor honoris causa kepada Raja Saudi Arabia jadi pemicu kemelut. Seberapa kekuatan rektor Gumilar?

Gumilar Rusliwa Somantri mungkin tak menyangka jika anugerah doktor honoris causa yang diberikan kepada Raja Arab Saudi bakal menggoyang kedudukannya sebagai Rektor Universitas Indonesia (UI). Kini, UI terus bergoyang. Cara Gumilar mengelola kampus juga dimasalahkan.
Permasalahan yang selama ini mengendap pun mendadak bunyi. Sebut saja soal minimnya transparansi penggunaan anggaran dan ketidakjelasan status ribuan pegawai UI. Selasa pekan silam, puluhan orang dari Paguyuban Pekerja UI pun berunjuk rasa.
Beberapa civitas akademika UI melakukan aksi protes dengan mogok mengajar setelah mereka tahu adanya penyalahgunaan alokasi dana SPP untuk makanan anjing dan ikan di rumah rektor. “Kami mengikuti apa yang disuarakan oleh BEM yang meminta ada mogok kuliah. Kami mengikuti ideologi yang mereka inginkan, yaitu kampus yang lebih baik. SPP yang digunakan untuk membeli makan anjing piaraan, itu jelas pelanggaran,” ujar Dosen UI, Effendi Gazali, yang mogok ngajar bersama Tamrin Amal Tomagola.
Imbauan mogok memang datang dari BEM. Mahasiswa yang sempat mogok kuliah berasal dari Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ekonomi, kendati tidak semua. Mogok itu hanya sehari. Menteri Pendidikan Nasional M. Nuh langsung turun tangan menemui MWA (majelis wali amanat) maupun rektorat, senat akademik, dan guru besar. Mereka sepakat menyelesaikan masalah ini secara internal. Kedua, kata Nuh, pelaksanaan Tridharma (Perguruan Tinggi), termasuk proses belajar-mengajar harus dijaga tetap berlangsung. “Jadi, dipastikan tidak ada pemogokan,” kata Nuh, Rabu lalu.
Aksi mogok itu diduga bagian dari upaya menggulingkan Gumilar dari kursi rektor. Soalnya, sempat beredar dokumen skenario penggulingan ini. Dalam dokumen terdapat 33 pejabat dan pengajar UI disebut sudah bekerja sama dalam upaya pelengseran Gumilar. Nama-nama itu antara lain berasal dari elemen majelis wali amanat (MWA), guru besar, senat akademik, dosen, iluni pusat, dan iluni fakultas.
Nah, ini pula yang membuat konflik masuk ranah politik. Praktisi hukum senior yang juga alumnus UI, Adnan Buyung Nasution, misalnya, mempertanyakan kehadiran Sekretaris Kabinet Dipo Alam yang berada di tengah-tengah kekisruhan tersebut. “Saya sempat terkejut kenapa Dipo Alam hadir dalam pertemuan di rumah Pak Emil Salim,” kata Buyung. “Saya tanya ke dia, ngapain kamu ke sini? Sebagai perwakilan Presiden atau apa?” Dipo menjawab pertanyaannya dengan kalimat, “Bang, saya datang sebagai anak UI.”
Dipo menentang penggulingan Rektor UI. “Upaya itu kurang patut dan tidak mendidik. Universitas bukan partai politik, juga bukan kancah politik untuk pemakzulan,” kata Dipo.
Gumilar tampaknya memang tak terlalu terpancing. Kisruh ini tidak menghambat kampus ini untuk menggelar prosesi wisuda tahunan. Pada Jumat lalu Gumilar mewisuda 2.641 sarjana baru.
Lagi pula, kepemimpinan Gumilar tak buruk-buruk amat. Bagus, malah. UI menjadi universitas terbaik di Indonesia versi World University Ranking 2011. Quacquarelli Symonds (QS) World University yang menilai lebih dari 600 perguruan tinggi terbaik di dunia menempatkan UI sebagai satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang masuk dalam Top 250 Universities in the World. UI tercatat berada di peringkat ke-217, mengungguli sejumlah perguruan tinggi favorit di dunia, seperti University of Notre Dame, United States (urutan ke-223, skor 44,8) Mahidol University Thailand (urutan ke-229, skor 43,1), dan University of Technology, Sydney, Australia (urutan ke-268, skor 39,7).—trust 47/09