Korupsi tak pandang usia. Bisa menjerat siapa saja. Kiai politisi maupun pengusaha politisi bisa terjerumus di dalamnya. Begitu juga birokrat. Menariknya, korupsi mewabah di kalangan kaum muda.

Gayus Tambunan dan Muhammad Nazaruddin mewakili sosok yang dimaksud.Gayus masih 30 tahun, pegawai pajak golongan IIIA. Gajinya tentu saja standar di level IIIA di Ditjen Pajak, yakni Rp 12,1 juta. Jumlah itu terdiri gaji pokok dan berbagai tunjangan Rp 2,4 juta, remunerasi sekitar Rp 8,2 juta dan imbalan prestasi kerja rata-rata Rp 1,5 juta.

Gayus yang lahir dari keluarga pas-pasan itu masa kerjanya kurang dari 10 tahun, tapi ia kini adalah PNS golongan III terkaya dengan pundi-pundi Rp 104 miliar. Dari mana? Itulah yang membuatnya kini mendekam di penjara. Korupsi, tentu saja.

Nazaruddin tak kalah hebat. Pria ini juga masih berusia 30-an tahun. Pakar manajemen, Rhenald Khasali menilai mantan bendahara Partai Demokrat ini mewakili generasi muda yang menjadi ‘sprinter’ dalam hal korupsi. “Saya heran, dia bisa dapat proyek ratusan miliar, sedangkan saya, guru besar dapat honor menjadi pembicara tak sampai belasan juta rupiah,” ujarnya.

Budayawan Taufik Ismail tak kalah takjub dengan triliunan rupiah yang dibidik kepada Nazaruddin. “Ini 30-an tahun sudah seperti itu dengan jumlah yang luar biasa,” kata Taufik takjub.

Nazaruddin memberi kita gambaran tentang pemuda dengan slogan: muda pesta pora, tua tidak sia-sia, mati masuk surga. Nazaruddin adalah sosok hebat, berpengaruh, dan tidak segan berbagi rezeki kepada kawan maupun lawannya.

Di luar dua nama itu, sejumlah pejabat muda, usia 40-an tahun, juga terserempet kasus korupsi. Penegak hukum belum menyematkan status tersangka bagi mereka.Namun publik sudah mencapnya sebagai koruptor. Siapa mereka? Dia adalah Anas Urbaningrum, Muhaimin Iskandar dan Andi Malarangeng.

Anas Urbaningrum, Ketua Partai Demokrat, kelahiran 15 Juli 1969. Masih muda dan berkarier politik amat moncer. Miliader yang kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu kini diselimuti tuduhan korupsi kendati belum menjadi tersangka.

Lalu ada Muhamin Iskandar. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi ini kelahiran 24 September 1966, kader Nahdatul Ulama (NU), Ketua Umum PKB, punya rumah gedong, dikait-kaitkan dengan tuduhan korupsi proyek infrastruktur daerah transmigrasi. Andi Malarangeng, kelahiran 14 Maret 1963, Menteri Pemuda dan Olah Raga, miliader, juga dikait-kaitkan dengan skandal korupsi yang dituduhkan kepada Nazaruddin.

Kendati sampai serak mereka menolak tuduhan, publik telah menempatkan politisi berusia 40-an tahun ini dalam belitan korupsi yang bisa jadi akan menghabisi karier mereka di dunia politik.

Nah, belakangan ditebarkan isu adanya semacam skenario untuk menghabisi politisi muda yang bermasa depan cerah. Siapa yang melakukan? Politisi tua, tentu saja. Kecurigaan semacam ini sengaja digulirkan pihak-pihak tertentu yang ingin mengacaukan otak waras kita yang anti-korupsi. Kenapa juga tak dilemparkan gosip, tuduhan atas kaum muda santri itu sebagai upaya menjatuhan Islam? Siapa tahu, lewat cara itu bisa menggerakkan dukungan umat Islam.

Pastinya, gara-gara ulah mereka itu kini gema saatnya “pemuda memimpin” sudah diplesetkan menjadi “saatnya pemuda memimpin korupsi”.

***

Korupsi bukan monopoli anak muda. Ingat kisah Danial Tandjung dan Sofyan Usman? Dia adalah lansia alias pria lanjut usia, politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Keduanya terpidana korupsi dalam kasus traveller cheque Miranda S. Gultom. Pengadilan tipikor memvonis mereka masing-masing 15 bulan penjara dan denda Rp 50 juta pada Juli lalu. Daniel saat divonis berusia 78 tahun sedangkan Sofyan 67 tahun.

Daniel Tandjung adalah seorang kiai. Pengadilan menjeratnya ke bui saat ia sedang sibuk membangun pesantren Umi Kalsum, di Nias. Saat membacakan nota pembelaan diri atau pledoi dalam persidangan ia menangis tersedu-sedu. “Saya teringat pesan orang tua saya. Tidak perlu kirim apa-apa, asal jangan kirim kabar buruk,” ucapnya memelas. “Nama baik saya hancur karena kasus ini,” isak Daniel.

Lain lagi sohibnya, Sofyan yang pasrah dan mengaku bersalah. “Ini kelalaian saya. Ini kehendak tuhan agar lebih hati-hati dalam menjalankan hidup. Saya sedih dan terpukul, karena merasa ternistakan dianggap bersalah melakukan korupsi. Mohon tetap diberikan ketabahan bagi saya dan keluarga,” ujarnya lirih.

Dua tokoh politisi Islam ini di masa tuanya mestinya hidup bahagia bersama cucu, justru meringkuk di penjara. Mungkin ini adalah cara Tuhan membuat mereka menghabiskan sisa hidupnya untuk mendekatkan diri kepada-Nya.