Archive for April, 2008

Batik

CANG PANAH
Haba Miftah H. Yusufpati

Hari itu, istri dana anak-anak pulang dari department store. Biasa, shopping sekalian rekreasi. Dugaanku, dia bakal membawa oleh-oleh. Benar saja. Selain donald, istriku membelikan baju batik.
“Weleh, batik lagi.”
Tentu saja, itu kata bathin saya. Tak enak rasanya, bilang terus terang kalau saya kurang sreg dengan oleh-olehnya itu. Maka dengan wajah sumringah (dibuat-buat) saya menerima baju batik buah tangan itu.
Soal batik, saya teringat saat pertama kali berkunjung ke Aceh pada 1996-an. Di pasar pakaian, dekat Masjid Raya Baiturrahman, saya membeli tas batik khas Aceh. Begitu sampai di Jakarta, tas untuk isi pakaian itu digandrungi beberapa rekan kerja. Saya sendiri juga suka, maka enggan melepas untuk mereka. Lagi pula, pada saat itu saya tidak pernah membayangkan bakal berkesempatan lagi ke Aceh.
Ternyata tahun lalu, saya berkesempatan lagi ke Aceh. “Mas, katanya, batik Aceh bagus-bagus. Ntar, kalau pulang dari Aceh beli, ya,” pesan istriku.
Saya menjadi teringat tas batik itu.
Baca lebih lanjut…

Berteriak

CANG PANAH
Haba Miftah H. Yusufpati

Bosan rasanya, setiap hari mendengar ada demo. Orang berteriak. Mengumpat dan memaki. Membaca koran tentang demo saban hari, telinga rasanya pengeng. Persoalan tetap itu-itu saja.
Bang Zul memang bukan korban tsunami, paling tidak rumahnya tidak sampai hancur, sehingga wajar ia mulai gemas dengan demo berhari-hari tanpa henti. “Wajah Aceh, belakangan ini seperti wajah amarah,” katanya.
Ucapan Bang Zul ini mengingatkan saya sebuah mitos tentang penduduk Kepulauan Solomon.
Ada kebiasaan menarik penduduk primitif di kepulauan yang letaknya di Pasifik Selatan itu. Konon, apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak, mereka beramai-ramai meneriaki pohon itu. Tujuannya, agar pohon itu mati.
Beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani memanjat pohon itu sampai ke pucuk. Sesampai di atas pohon, bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka berteriak berjam-jam, selama kurang lebih 40 hari.
Ajaibnya, konon lagi, daun-daun pohon yang diteriaki itu mulai mengering. Dahan-dahannya juga mulai rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati. Setelah itu, pohon itu dengan mudah ditumbangkan.
Bila mitos itu benar, maka ada pelajaran yang saya ambil: Teriakan-teriakan terhadap mahkluk hidup bisa menyebabkan makhluk itu kehilangan rohnya.
“Menuntut sesuatu kepada lembaga yang super kuat, terkadang butuh teriakan,” kata saya kepada Bang Zul. “Kalau sudah dengan teriakan kuat beramai-ramai dan berlama-lama, terus menerus, kok, masih perkasa juga, berarti ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, teriakan itu dikeluarkan mereka secara tidak tulus. Kedua, lembaga itu memang sudah mati.”
Bang Zul manggut-manggut. Saya tak tahu, apakah dia tahu atau tidak, apa yang saya maksud.
Yang pasti, ‘ada pocong di BRR..!’ kata berita.*

Pertunjukan Islami, Dilema Penerapan Syariat Islam

Aksi panggung anggota grup band papan atas negeri ini, Nidji, Peterpan, dan Marvel, nyaris tak jadi digelar di Lhokseumawe. Pasalnya, ribuan santri mendatangi tempat pagelaran tersebut, menentang dan meminta pertunjukan seperti iti dihentikan, karena dianggap melanggaran Syariat Islam.

Seribuan santri dari berbagai pondok pesantren di Aceh Utara, Bireuen dan Kabupaten di Aceh lainnya memblokade pintu masuk stadion tunas Bangsa reklamasi, Pusong, Lhokseumawe. Selain pertunjukan yang nyaris batal, maka kericuhan juga nyaris pecah. Untung saja, aparat keamanan dibantu tokoh setempat, Tgk. Muhibuddin Waly dapat meredakan ketegangan tersebut. Show ketiga penyanyi berjalan lancar tanpa insiden yang berarti.

Sebelumnya, pertentangan serupa–-soal pertunjukan—sudah berkali-kali muncul dan selalu bisa ditangani aparat dengan baik, kendati juga ada yang berakhir dengan kekisruhan.

Baca lebih lanjut…

Cinta

CANG PANAH
Haba Miftah H. Yusufpati

Selama penerbangan Banda Aceh- Jakarta, saya hanya membayangkan istri dan ketiga anakku. Mereka pasti akan menyambut bahagia. Sebulan lebih kami dipisahkan oleh pekerjaan. Awalnya, agar menjadi surprise, saya tak mengabari kepulangan itu. Hanya saja, cuaca buruk dan keamanan penerbangan yang tak menjanjikan, membuat saya harus membocorkan kepulangan itu. Jangan sampai kalau ‘ada apa-apa’ –pesawat jatuh, misalnya–mereka tak tahu telah kehilangan diriku.
Jadi, saya harus memberi tahu mereka. Syukur saya selamat sampai rumah. Benar saja, mereka telah menanti kepulanganku. Seperti keluarga lain, peluk dan cium sebagai pelepas kangen, menjadi sambutan yang menyenangkan.
Baca lebih lanjut…

Nama Islami

Cang panah

Haba Miftah H. Yusufpati

Alhamdulillah, pada bulan ini saya panen keponakan. Adik perempuanku melahirkan bayi mungil perempuan. Ini adalah keponakan yang ke-27 dari delapan saudara kandungku. “Kak, tolong kasih nama yang bagus,” pintanya.

Kalau soal nama saya banyak punya stok. Lalu aku berikan dia sebuah nama. Ada tiga kata. Esoknya, dia protes, nama yang saya sodorkan dikatakan tak nyunah (sesuai sunah Nabi). Bahkan dibilang tak islami (tak sesuai nilai-nilai Islam). Saya terbengong-bengong.

Karena tak puas, adik iparku – suami adikku—pergi ke toko buku. Ia membeli buku tentang nama-nama yang islami. “Bagus,” saya bilang.

Tiga hari kemudian, terpampanglah nama, ditulis dengan indah ditempel di dinding rumahnya: ‘Bilqis Zahratun Shifa’. Saya tersenyum. Rupanya, inilah yang disebut nama islami itu.

Baca lebih lanjut…